So,this is my first oneshot.Sorry kalo cerita ini banyak
kekurangan..Happy Reading!!
Hambar.Itulah yang ia rasakan pada pernikahannya.Semuanya
terjadi tanpa cinta sedikitpun dari laki-laki tampan yang menjadi suaminya itu.
************
Avery Makayla &
Justin Bieber
Ave tersenyum tipis saat menatap undangan perikahannya yang
ia simpan selama 1 tahun.1 tahun mencintai tanpa dicintai kembali.1 tahun
pernikahan yang tidak dianggap oleh Justin. 1 tahun menghadapi sikap dingin
Justin.1 tahun ia terus berusaha memutarbalikkan sikap suaminya tanpa menyerah.
Gadis cantik itu mengehembuskan nafasnya panjang,berusaha
untuk terus menahan air mata yang hendak menyeruak keluar.Terdengar suara
mobil.Ah,itu pasti Justin,pikirnya.Dia segera meletakkan kembali undangan
itu,dan segera membukakan pintu untuk Justin.
Seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya,pria itu tetap
memasang wajah datar nan dingin setiap kali berhadapan dengannya.”Apa kau sudah
makan Justin?Aku membuatkan makanan kesukaanmu. Oh iya, bagaimana lagumu?”tanya
Ave lembut.”Aku sudah makan diluar.Dan tolong.Tidak usah repot-repot mengurusi
hidupku,urusi saja hidupmu itu.”ketus Justin.
Ave menghela nafas
pelan,mencoba bersabar menghadapi suami yang ada dihapannya ini.”Aku tau kau
terpaksa menikahiku,Justin.Tapi setidaknya kita bisa mencoba menjalani
pernikahan ini dengan baik,bukan?”kata gadis itu pelan,semampu mungkin agar
suaranya tidakterdengar pecah.
Lawan bicara Ave menatapnya tajam,membuat Ave
takut.”Dengar,aku tidak pernah mencintaimu.Tidak.Akan.Pernah.Dan jangan
sekali-kali kau berharap aku akan peduli dengan pernikahan ini”sahutnya dingin,menekan
setiap kata-kata yang ia keluarkan,dan meninggalkan Ave yang masih terdiam.
****
Ave segera pulang ke rumahnya,ingin membuat makan malam
untuk suaminya dan berharap,suatu saat sikap laki-laki itu bisa berubah pada
Ave. Terlihat mobil Justin yang terpakir di pekarangan rumah saat gadis itu memberhentikan
mobilnya.Dia membuka pintu rumahnya dan melangkah ke masuk ke dalam.
“J-justin?”tangan gadis itu refleks terangkat menutup
mulutnya,terkejut melihat pria yang bernotabene sebagai suaminya itu tengah
bermesraan dengan perempuan lain yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya.Tanpa
diminta keluar,perempuan itu segera berlari kecil dan keluar dari rumah
itu,meninggalkan Ave yang memandang Justin dengan tatapan kecewa.
“Aku tau kau tidak mencintaiku Justin. Dan tidak akan pernah
mencintaiku.Aku tahu itu.Tapi setidaknya, hargailah aku disini.Aku ini
istrimu.”ucap Ave kecil.
****
Avery’s pov
Air mataku menetes.Sial.Aku benci ini.Aku benci saat air
mata sialan ini mengalir di depan laki-laki dihadapanku ini.Aku benci terlihat
lemah dan tak berdaya di hadapannya.”M-maafkan aku,Tak seharusnya aku berkata
seperti itu.Aku minta maaf.”kataku. Aku segera berlari ke kamarku,tak ingin memperlihatkan
lebih banyak lagi tangisan yang keluar dari mataku pada Justin.
Aku menatap foto pernikahan kami. Foto yang diambil oleh mom
pattie, ibu dari Justin. Aku terus menatap raut wajahku yang sangat berbeda 180
derajat dengan wajah Justin. Wajahku yang tersenyum manis,wajah Justin yang
datar.
Aku menutup buku harianku.Terdengar seperti anak kecil
memang, tapi aku selalu mengeluarkan isi hatiku lewat lembaran buku manis itu.Buku
yang sudah aku rawt sejak kecil hingga sekarang....Tersenyum.Itulah yang
setidaknya bisa kulakukan saat ini.Mengingat-ingat sosok Justin yang dulu
dikenalnya.Sosok laki-laki yang lembut,ketika mereka masih bersahabat.
Ya, dulu Justin dan aku adalah sepasang sahabat.Justin
berpacaran dengan Caroline,yang juga bersahabat denganku. Tapi sikap Justin
langsung berubah total sejak peristiwa kecelakaan itu. Kecelakaan yang
menewaskan Caroline.Caroline yang terbakar bersamaan dengan mobil sialan itu.
Jagalah dan cintailah
Justin,Ave. Seperti aku menjagamu dan mencintainya.Dan buatlah dia mencintaimu
seperti dia mencintaiku.Maaf, Ave,aku harus pergi.
Itu kata-kata terakhir Caroline sebelum dia mendorongku
keluar dari mobil itu.Sesaat kemudian, mobil itu meledak sebelum aku sempat
menyelamatkan Caroline.Karena kejadian itulah,Justin menyalahkanku atas
kematiaan Caroline.
Aku akan terus berusaha membuatnya kembali seperti dulu, Carol. I
promise.
****
Justin melihat rumahnya yang sepi.Kemana gadis itu?pikirnya.
Pria itu melangkah masuk ke kamar istrinya itu.Yang tidak pernah ia masuki
sebelumnya,bahkan sejak awal pernikahan mereka.Terlihat Ave yang sedang
tertidur,memeluk sesuatu dalam tidur manisnya.Justin mendekat, penasaran benda
apa yang tengah dipeluk istrinya itu. Dia tertegun, mendapati bercak air di
bantal Ave.Tepat dibawah matanya,menandakan gadis ini habis menangis. Sebercak
perasaan bersalah muncul dalam dirinya,mengingat dia selalu bersikap kasar dan
dingin pada gadis itu.
Justin mengambil buku tersebut dari rengkuhan Ave dengan
pelan,tidak ingin membangunkan tidur nyenyak Ave.Gadis itu sudah terlalu lelah
bekerja, dan menghadapi Justin yang dingin seperti ini.Dia berjalan ke arah
balkon,dan mulai membuka lembar demi lembar, membaca serangkaian kata yang
ditulis indah oleh Ave.
12 Mei 2012
Justin, pria yang
aku cintai.Hari ini menjadi pendamping hidupku.Setidaknya aku bahagia bisa
menjadi pendamping hidupnya walaupun dia tidak mencintaiku.
9 Maret 2013
Sudah
hampir setahun umur pernikahanku dengannya,sikapnya padaku masih
sama,dingin.Tapi melihatnya tersenyum saja sudah lebih dari cukup
bagiku,walaupun bukan aku yang membuat dia tersenyum.Dan aku, Avery Bieber,
akan terus berusaha dan berusaha membuatnya tersenyum.Aku tidak akan pernah
menyerah.
5 April 2013
Aku mencintaimu
Justin.Sampai kapanpun perasaanku tidak akan pernah berubah,meskipun kau terus
bersikap dingin padaku.Sampai kapan kau akan terus seperti ini Justin?
Justin tertegun membaca tulisan tangan Ave di buku itu.
Perasaan bersalah menyusup ke dalam hatinya.Dirinya yang selalu mengabaikan Ave
sejak kecelakaan itu rasanya tidak pantas diterima Ave.Tak seharusnya dia
menyalahkan ‘gadisnya’ itu. Semua sudah diatur, dan Tuhan memilih Ave untuk
menjadi istrinya,bukan Caroline.
“Justin?”ucap Ave kecil.Takut membuat suaminya marah.Justin
segera membalikkan tubuhnya menatap Ave,berjalan ke arah Ave.Dan segera
merengkuh Ave ke dalam pelukannya.Pelukan yang ia pernah berikan dulu.Pelukan
pertama yang ia berikan sejak pernikahan mereka.
Ave tertegun atas sikap Justin,mencoba melepas pelukan itu,
tapi sia-sia,tenaganya tak cukup bila dibandingkan dengan tenaga
Justin.”J-justin?Ka—“
“Maafkan aku Ave,maafkan aku.Maaf atas sikapku selama
ini.Sikapku yang dingin,yang kasar, yang selalu mengabaikanmu,yang tidak
menganggapmu,maafkan aku”ucap Justin. Dia mempererat pelukannya.”Aku sudah
memaafkanmu sejak dulu , Justin.”jawab Ave kelewat bahagia.Suaminya telah
berubah.
Aku mencintaimu
Justin. Batin Ave
****
Akhir-akhir ini Justin merasa ada perbedaan dari sikap
Ave.Dia lebih cepat kelelahan dari biasanya.Tapi ketika berbagai macam
pertanyaan yang Justin lontarkan untuk menanyakan keadaannya,kenapa ia cepat
lelah, dia hanya menjawab ‘Aku baik-baik saja’ atau ‘aku hanya sedikit
kecapaian’
Lagi-lagi, Justin menanyai hal serupa tentang keadaan
Ave.Dia penasaran dengan sikap Ave yang ‘agak’ menjauhinya. “Aku tidak
apa-apa”jawab Ave,ketika Justin bertanya,membuatnya curiga akan apa yang Ave
sembunyikan dari dirinya.
Justin menghela nafasnya berat mendengar jawaban
istrinya.”Kau kenapa?Akhir-akhir ini aku sering melihatmu lebih cepat
kelelahan, wajahmu pucat, dan kau juga sedikit menjauhiku.”tanya Justin
lembut.Gadis itu menunduk.”A-aku baik-baik saja Justin.Sungguh.”jawabnya
ragu,membuat Justin semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan Ave.Justin
tersenyum tipis,lalu berkata , “aku ini suamimu Ave,kalau kau ada
masalah,ceritalah kepadaku.”ucap Justin mengelus rambut Ave,dan pergi
meninggalkan Ave yang tengah berkutat dengan pikirannya sendiri.
Ada saatnya kau akan
mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu, Justin. Cepat atau lambat.
Batin Ave
****
--Skip 3 bulan--
“Ave,aku pulang”teriak Justin.Tidak ada jawaban. Pria itu
merasa bingung,karena biasanya Ave selalu menjawabnya.Justin berjalan menuju
kamarnya, dan mendapati Ave yang pingsan di dekat tempat tidurnya.Dengan cepat
dia membawa Ave ke rumah sakit, tidak ingin hal yang buruk menimpa istrinya.
“Biar kami yang menanganinya, harap anda tunggu
diluar.”jelas dokter yang menangani Ave.Justin menunggu istrinya dengan
perasaan cemas,dan beberapa jam kemudian dokter tersebut pun keluar dan membuka
maskernya.”Dia masih belum melewati masa kritisnya tuan,maafkan kami.”ucap sang
dokter menyesal.”Apakah aku boleh masuk?”tanya Justin.Setelah mendapat anggukan
dari dokter itu,Justin pun langsung bergegas masuk ruangan istrinya.
Dihadapnnya sekarang,istrinya, terbujur di atas tempat itudr
dengan berbagai alat yang dipasang di tubuhnya.Justin berjalan pelan ke arah
tempat tidur Ave, masih belum memeercayai apa yang ia lihat.Gadis yang ia kenal
sebagai gadis terkuat, kini tertidur dengan wajah pucat yang masih terlihat
cantik. Dia menggenggam tangan Ave erat,tidak ingin meninggalkan bidadarinya itu.
“Aku mencintaimu Ave,sangat mencintaimu.Kau tahu itu.Aku
bahkan belum bisa menjadi suami yang baik.Aku tahu kau perempuan yang sangat
kuat,kau bisa melalui ini,Ave.Kumohon,kau harus bertahan.Demi aku.”ucap Justin
parau.Air matanya menetes begitu saja.Hatinya begitu sakit melihat gadis yang
sangat ia cintai terbaring lemah di bangkar ini.
Keluarga Ave,keluarga Justin, beserta Bieber Crew pun sudah
berdatangan.Sudah 3 jam ia menunggu Ave,tapi gadis itu tak kunjung bangun dari
tidurnya.Justin mendesah, “baiklah.Aku akan pulang sebentar.Kau tunggu
disini,aku akan segera kembali.”ucap Justin. Dia ingin mengambil pakaian di
rumahnya,agar ia bisa bermalam di sini,menemani Ave. Justin akan beranjak bagun
ketika tiba-tiba tangan Ave menggenggam erat tangan Justin.Seakan tidak ingin Justin
pergi.”Baiklah jika itu maumu,aku tidak akan meninggalkanmu.Aku akan tetap
disini untukmu.”dia mengelus tangan istrinya lembut,kembali duduk, dan memberi
kode kepada Manajernya agar mengambilkan pakaiannya dirumahnya.
Sudah berhari-hari Ave belum bangun, dan berhari-hari juga
Justin selalu menemani Ave,mengajaknya berbicara,dan berharap secepat mungkin
Ave bangun.Dia selalu setia menemani Ave,dan tidak beranjak pergi dari tempat
duduknya.
“Cepatlah bangun Ave.Aku merindukanmu..Aku rindu bergurau
denganmu,aku merindukan masakanmu,aku rindu akan kecupanmu,aku merindukan semua
yang ada pada dirimu..keceriaan kamu,tawa kamu,semangat kamu..aku mohon cepat
bangun.Kau ingin aku terus begini?Aku tersiksa melihatmu terbaring di sini
dengan wajah pucat.Aku akan mengajakmu ke taman dan makan ice cream jika kau
bangun Ave..Kumohon,bangunlah”ucapku.Lagi-lagi air mataku menetes.Dan semakin
cepat turun.Mesin pendeteksi jantung Ave berbunyi cepat,Ave mengerjapkan
matanya beberapa kali,mencoba menyesuaikan matanya dengan ruangan ini.
“Ave?”kaget Justin.Ave tersenyum.Senyum Ave itu bukanlah
senyum yang benar-benar menyiratkan kesenangan.Ada rasa sakit di dalam
sana,tapi Ave tidak ingin menampakkannya pada Justin.Dia membuka alat bantu
pernafasannya,yang langsung mendapat
teguran keras dari Justin.”Apa-apaan kau ini,pakai it—“kalimat Justin dipotong
Ave.”Aku ingin berbicara dengan bebas, Justin. Alat itu membuatku tidak
bebas.”ucapnya. Justin mendesah”Baiklah”ucapnyaa mengalah.
Ave mengusap wajah Justin,menatap Justin sambil
tersenyum.Lalu tanga dinginnya menggenggam tangan Justin erat.”Kumohon jangan
menangis apapun yang terjadi.Janji”ucap Ave.Justin mengerutkan keningnya
bingung.”A-apa maksudmu?”
“Setelah ini,bacalah surat yang kuletakkan di buku
harianku,semua jawaban atas pertanyaanmu selama ini ada disana.Terima kasih
Justin, kau sudah mencintaiku.Kau telah menjadikanku perempuan paling
beruntung.Terima kasih karena telah membiarkanku memilikimu seutuhnya.Terima
kasih untuk 1 tahun 7 bulan terbaik dihidupku.Terima kasih karena telah
menjadikanku perempuan yang berharga di matamu.Maafkan aku atas semua
kesalahanku,kumohon jangan menangis jika aku pergi.Carilah perempuan lain yang
lebih baik daripada aku.”ucap Ave.Air mata Justin mengalir dengan
derasnya.Selama hidupnya,dia tidak pernah sesedih ini.
Tangan Ave bergerak menghapus air mata Justin. Dengan
tersendat-sendat,dia berkata lagi,“Terima kasih atas kasih sayangmu Justin.Maaf
aku harus meninggalkanmu secepat ini.Aku mencintaimu, selalu dan selamanya.”Ave
menutup matanya.Wajahnya pucat.Tubuhnya dingin.Tapi bibirnya mengulum senyum
yang amat tenang.
Tiiiitt.............tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttttttttt............................
Justin terhenyak.Jantungnya bagaikan dihantam pedang
tajam.Dia terhuyung,tidak memercayai mata dan pikirannya.Ave meninggal.Dia
meninggalkan Justin.Bidadarinya pergi,selamanya.
Dia segera memencet bel yang terletak di dekat tempat tidur
Ave,berupaya memanggil dokter.Setelah dokter dan para suster datang,Justin
beranjak keluar,menemui keluarganya dan Ave, serta bieber crew.
Justin melihat keadaan di dalam, sang dokter yang berusaha
menghidupkan kembali Ave dengan alat pemacu jantung.Mesin pendeteksi jantung
yang tak kunjung menandai adanya detak jantung,para suster yang menatap sang
dokter dan pasien dengan raut wajah putus asa.Dia berdoa dalam hatinya,memohon
memberi kesempatan pada Ave agar jantungnya menunjukkan adanya tanda-tanda
kehidupan.Dan memohon agar dia ikut meninggal dan ikut dengan Ave kesana,hidup
bersamanya dengan damai.
Tapi sia-sia.Dokter yang menangani Ave keluar,dengan
menggelengkan kepalanya,wajahnya penuh penyesalan,menandakan bidadarinya,gadis
yang ia cintai sudah benar-benar pergi.Meninggalkan Justin sendiri,menatap
kosong ke arah tubuh kosong milik Ave.
****
Justin’s pov
Aku membuka tulisan tangan terakhir milik Ave.Surat yang Ave
letakkan di buku hariannya.Mulai membaca surat itu dengan mata yang masih
membengkak.
Dear Justin,
Aku pasti sudah
benar-benar meninggalkanmu saat kau membca surat ini.Tapi,aku minta maaf
Justin.Aku belum bisa menjadi istri yang baik selama in.Maafkan aku, jika aku
terlalu sering membuatmu kecewa.
Tidak, Ave.Tidak.
Kau telah menjadi istri yang sangat baik.Kau bahkan terlalu baik bagiku,kau
tidak pernah sekalipun mengecewakanku.
Aku minta maaf,aku
menyembunyikan penyakit ini darimu.Kau tau?Aku sangat senang ketika kau
memelukku saat itu,kau berubah menjadi Justin yang aku kenal.Bukan Justin yang
dingin,melainkan Justin yang lembut. Tapi sehari setelah itu,saat kau sedang di
studio,hidungku banyak meneteskan darah,yang membuatku segera mengendarai mobil
ke rumah sakit.
Di rumah sakit
itu,aku didiagnosis oleh dokter bahwa aku menderita kanker darah stadium 4,yang
tidak memungkinkanku untuk sembuh.Sekali lagi maafkan aku,aku hanya tidak ingin
merepotkanmu dan membuatmu gelisah.Aku tidak mau membuat kariermu berantakan
hanya karena aku memberitahumu soal penyakitku.Lagipula aku tau, cepta atau
lambat,aku harus meninggalkanmu dan menyuruhmu mencari gadis lain yang jauh
lebih baik dariku.
Aku mohon jangan
lagi menangis.Kau tau kan, aku tidak ingin melihatmu menangis,dan aku hanya
ingin melihatmu selalu tersenyum bahagia.Aku ingin melihat kariermu naik dan
menciptakan lagu-lagu yang luar biasa.Kau bisa melakukan itu kan?Demi aku?
Aku benar-benar
minta maaf,aku terlalu cepat meninggalkanmu.Terima kasih atas semuanya.Selamat
tinggal, Justin. I love u, forever and always.
Love,
Avery
Tubuh Ave sudah dimakamkan.Pemakaman Ave diiringi oleh
tangisan keluargaku dan Ave.Aku?Aku mencoba menahan tangisku,sekuat
tenaga.Walaupun berat,aku harus mengikuti perkataan Ave untuk tidak menangis.
Selesai pemakaman,orang-orang beranjak pergi dari tempat
ini.Hanya aku yang masih menatap makam Ave.”Kau akan selalu tinggal di
hatiku,Ave.Selamanya,seumur hidupku.”bisikku. “Terima kasih Justin.”bisik
seseorang.Aku mengenal suaranya.Suara Ave.Aku berbalik,mencari sumber suara
itu,yang tidak mungkin kulihat.Air mataku mulai menggenang,memaksa ingin
keluar. “Jika suara itu benar-benar suaramu,kumohon,biarkan aku bisa melihatmu
untuk terakhir kali,Ave”
Air mata ini keluar.Pertahananku sudah runtuh,aku tidak bisa
menahan air mata ini lagi.Aku merindukannya,sangat.”Kumohon jangan
menangis,Justin.Kau sudah berjanji.”bisik Ave.Aku melihatnya!Ya,ya..Aku
melihatnya!! Dia tersenyum ke arahku,senyum termanis yang pernah aku lihat.
“Aku berjanji Ave.Aku berjanji”ucapku sembari menghampus air
mataku.”Aku harus pergi.Tepati janjimu,Justin.Aku mencintaimu”bisik
Ave.Perlahan tubuhnya memudar,dan akhirnya benar-benar menghilang.”Aku
mencintaimu juga, Ave.”bisikku lagi.Aku percaya,kau masih bersamaku Ave.Terima
kasih telah menjadi gadis terbaik yang pernah kukenal.Terima kasih
Dan aku,Avery Bieber, akan selalu tinggal dihatimu sampai selamanya,dan
suatu saat,kita akan bersama-sama.
Melihatmu tersenyum
saja sudah lebih dari cukup bagiku,walaupun bukan aku yang membuatmu tersenyum
–Avery Bieber
Kau akan selalu
tinggal dihatiku Ave,selamanya. –Justin Bieber
The End