Selasa, 22 Juli 2014

It's Always Been You - Oneshot Bieber Love Story

So,this is my first oneshot.Sorry kalo cerita ini banyak kekurangan..Happy Reading!!




Hambar.Itulah yang ia rasakan pada pernikahannya.Semuanya terjadi tanpa cinta sedikitpun dari laki-laki tampan yang menjadi suaminya itu.





************


Avery Makayla & Justin Bieber




Ave tersenyum tipis saat menatap undangan perikahannya yang ia simpan selama 1 tahun.1 tahun mencintai tanpa dicintai kembali.1 tahun pernikahan yang tidak dianggap oleh Justin. 1 tahun menghadapi sikap dingin Justin.1 tahun ia terus berusaha memutarbalikkan sikap suaminya tanpa menyerah.

Gadis cantik itu mengehembuskan nafasnya panjang,berusaha untuk terus menahan air mata yang hendak menyeruak keluar.Terdengar suara mobil.Ah,itu pasti Justin,pikirnya.Dia segera meletakkan kembali undangan itu,dan segera membukakan pintu untuk Justin.

Seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya,pria itu tetap memasang wajah datar nan dingin setiap kali berhadapan dengannya.”Apa kau sudah makan Justin?Aku membuatkan makanan kesukaanmu. Oh iya, bagaimana lagumu?”tanya Ave lembut.”Aku sudah makan diluar.Dan tolong.Tidak usah repot-repot mengurusi hidupku,urusi saja hidupmu itu.”ketus Justin.

Ave  menghela nafas pelan,mencoba bersabar menghadapi suami yang ada dihapannya ini.”Aku tau kau terpaksa menikahiku,Justin.Tapi setidaknya kita bisa mencoba menjalani pernikahan ini dengan baik,bukan?”kata gadis itu pelan,semampu mungkin agar suaranya tidakterdengar pecah.

Lawan bicara Ave menatapnya tajam,membuat Ave takut.”Dengar,aku tidak pernah mencintaimu.Tidak.Akan.Pernah.Dan jangan sekali-kali kau berharap aku akan peduli dengan pernikahan ini”sahutnya dingin,menekan setiap kata-kata yang ia keluarkan,dan meninggalkan Ave yang masih terdiam.


****
Ave segera pulang ke rumahnya,ingin membuat makan malam untuk suaminya dan berharap,suatu saat sikap laki-laki itu bisa berubah pada Ave. Terlihat mobil Justin yang terpakir di pekarangan  rumah saat gadis itu memberhentikan mobilnya.Dia membuka pintu rumahnya dan melangkah ke masuk ke dalam.

“J-justin?”tangan gadis itu refleks terangkat menutup mulutnya,terkejut melihat pria yang bernotabene sebagai suaminya itu tengah bermesraan dengan perempuan lain yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya.Tanpa diminta keluar,perempuan itu segera berlari kecil dan keluar dari rumah itu,meninggalkan Ave yang memandang Justin dengan tatapan kecewa.

“Aku tau kau tidak mencintaiku Justin. Dan tidak akan pernah mencintaiku.Aku tahu itu.Tapi setidaknya, hargailah aku disini.Aku ini istrimu.”ucap Ave kecil.



****
Avery’s pov

Air mataku menetes.Sial.Aku benci ini.Aku benci saat air mata sialan ini mengalir di depan laki-laki dihadapanku ini.Aku benci terlihat lemah dan tak berdaya di hadapannya.”M-maafkan aku,Tak seharusnya aku berkata seperti itu.Aku minta maaf.”kataku. Aku segera berlari ke kamarku,tak ingin memperlihatkan lebih banyak lagi tangisan yang keluar dari mataku pada Justin.

Aku menatap foto pernikahan kami. Foto yang diambil oleh mom pattie, ibu dari Justin. Aku terus menatap raut wajahku yang sangat berbeda 180 derajat dengan wajah Justin. Wajahku yang tersenyum manis,wajah Justin yang datar.
Aku menutup buku harianku.Terdengar seperti anak kecil memang, tapi aku selalu mengeluarkan isi hatiku lewat lembaran buku manis itu.Buku yang sudah aku rawt sejak kecil hingga sekarang....Tersenyum.Itulah yang setidaknya bisa kulakukan saat ini.Mengingat-ingat sosok Justin yang dulu dikenalnya.Sosok laki-laki yang lembut,ketika mereka masih bersahabat.

Ya, dulu Justin dan aku adalah sepasang sahabat.Justin berpacaran dengan Caroline,yang juga bersahabat denganku. Tapi sikap Justin langsung berubah total sejak peristiwa kecelakaan itu. Kecelakaan yang menewaskan Caroline.Caroline yang terbakar bersamaan dengan mobil sialan itu.




Jagalah dan cintailah Justin,Ave. Seperti aku menjagamu dan mencintainya.Dan buatlah dia mencintaimu seperti dia mencintaiku.Maaf, Ave,aku harus pergi.



Itu kata-kata terakhir Caroline sebelum dia mendorongku keluar dari mobil itu.Sesaat kemudian, mobil itu meledak sebelum aku sempat menyelamatkan Caroline.Karena kejadian itulah,Justin menyalahkanku atas kematiaan Caroline.








Aku akan terus berusaha membuatnya kembali seperti dulu, Carol. I promise.




****
Justin melihat rumahnya yang sepi.Kemana gadis itu?pikirnya. Pria itu melangkah masuk ke kamar istrinya itu.Yang tidak pernah ia masuki sebelumnya,bahkan sejak awal pernikahan mereka.Terlihat Ave yang sedang tertidur,memeluk sesuatu dalam tidur manisnya.Justin mendekat, penasaran benda apa yang tengah dipeluk istrinya itu. Dia tertegun, mendapati bercak air di bantal Ave.Tepat dibawah matanya,menandakan gadis ini habis menangis. Sebercak perasaan bersalah muncul dalam dirinya,mengingat dia selalu bersikap kasar dan dingin pada gadis itu.

Justin mengambil buku tersebut dari rengkuhan Ave dengan pelan,tidak ingin membangunkan tidur nyenyak Ave.Gadis itu sudah terlalu lelah bekerja, dan menghadapi Justin yang dingin seperti ini.Dia berjalan ke arah balkon,dan mulai membuka lembar demi lembar, membaca serangkaian kata yang ditulis indah oleh Ave.




12 Mei 2012
                Justin, pria yang aku cintai.Hari ini menjadi pendamping hidupku.Setidaknya aku bahagia bisa menjadi pendamping hidupnya walaupun dia tidak mencintaiku.




9 Maret 2013
                Sudah hampir setahun umur pernikahanku dengannya,sikapnya padaku masih sama,dingin.Tapi melihatnya tersenyum saja sudah lebih dari cukup bagiku,walaupun bukan aku yang membuat dia tersenyum.Dan aku, Avery Bieber, akan terus berusaha dan berusaha membuatnya tersenyum.Aku tidak akan pernah menyerah.




5 April 2013
                Aku mencintaimu Justin.Sampai kapanpun perasaanku tidak akan pernah berubah,meskipun kau terus bersikap dingin padaku.Sampai kapan kau akan terus seperti ini Justin?




Justin tertegun membaca tulisan tangan Ave di buku itu. Perasaan bersalah menyusup ke dalam hatinya.Dirinya yang selalu mengabaikan Ave sejak kecelakaan itu rasanya tidak pantas diterima Ave.Tak seharusnya dia menyalahkan ‘gadisnya’ itu. Semua sudah diatur, dan Tuhan memilih Ave untuk menjadi istrinya,bukan Caroline.


“Justin?”ucap Ave kecil.Takut membuat suaminya marah.Justin segera membalikkan tubuhnya menatap Ave,berjalan ke arah Ave.Dan segera merengkuh Ave ke dalam pelukannya.Pelukan yang ia pernah berikan dulu.Pelukan pertama yang ia berikan sejak pernikahan mereka.
Ave tertegun atas sikap Justin,mencoba melepas pelukan itu, tapi sia-sia,tenaganya tak cukup bila dibandingkan dengan tenaga Justin.”J-justin?Ka—“

“Maafkan aku Ave,maafkan aku.Maaf atas sikapku selama ini.Sikapku yang dingin,yang kasar, yang selalu mengabaikanmu,yang tidak menganggapmu,maafkan aku”ucap Justin. Dia mempererat pelukannya.”Aku sudah memaafkanmu sejak dulu , Justin.”jawab Ave kelewat bahagia.Suaminya telah berubah.

Aku mencintaimu Justin. Batin Ave

****
Akhir-akhir ini Justin merasa ada perbedaan dari sikap Ave.Dia lebih cepat kelelahan dari biasanya.Tapi ketika berbagai macam pertanyaan yang Justin lontarkan untuk menanyakan keadaannya,kenapa ia cepat lelah, dia hanya menjawab ‘Aku baik-baik saja’ atau ‘aku hanya sedikit kecapaian’
Lagi-lagi, Justin menanyai hal serupa tentang keadaan Ave.Dia penasaran dengan sikap Ave yang ‘agak’ menjauhinya. “Aku tidak apa-apa”jawab Ave,ketika Justin bertanya,membuatnya curiga akan apa yang Ave sembunyikan dari dirinya.

Justin menghela nafasnya berat mendengar jawaban istrinya.”Kau kenapa?Akhir-akhir ini aku sering melihatmu lebih cepat kelelahan, wajahmu pucat, dan kau juga sedikit menjauhiku.”tanya Justin lembut.Gadis itu menunduk.”A-aku baik-baik saja Justin.Sungguh.”jawabnya ragu,membuat Justin semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan Ave.Justin tersenyum tipis,lalu berkata , “aku ini suamimu Ave,kalau kau ada masalah,ceritalah kepadaku.”ucap Justin mengelus rambut Ave,dan pergi meninggalkan Ave yang tengah berkutat dengan pikirannya sendiri.

Ada saatnya kau akan mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu, Justin. Cepat atau lambat. Batin Ave


****
--Skip 3 bulan--
“Ave,aku pulang”teriak Justin.Tidak ada jawaban. Pria itu merasa bingung,karena biasanya Ave selalu menjawabnya.Justin berjalan menuju kamarnya, dan mendapati Ave yang pingsan di dekat tempat tidurnya.Dengan cepat dia membawa Ave ke rumah sakit, tidak ingin hal yang buruk menimpa istrinya.


“Biar kami yang menanganinya, harap anda tunggu diluar.”jelas dokter yang menangani Ave.Justin menunggu istrinya dengan perasaan cemas,dan beberapa jam kemudian dokter tersebut pun keluar dan membuka maskernya.”Dia masih belum melewati masa kritisnya tuan,maafkan kami.”ucap sang dokter menyesal.”Apakah aku boleh masuk?”tanya Justin.Setelah mendapat anggukan dari dokter itu,Justin pun langsung bergegas masuk ruangan istrinya.

Dihadapnnya sekarang,istrinya, terbujur di atas tempat itudr dengan berbagai alat yang dipasang di tubuhnya.Justin berjalan pelan ke arah tempat tidur Ave, masih belum memeercayai apa yang ia lihat.Gadis yang ia kenal sebagai gadis terkuat, kini tertidur dengan wajah pucat yang masih terlihat cantik. Dia menggenggam tangan Ave erat,tidak ingin meninggalkan bidadarinya itu.

“Aku mencintaimu Ave,sangat mencintaimu.Kau tahu itu.Aku bahkan belum bisa menjadi suami yang baik.Aku tahu kau perempuan yang sangat kuat,kau bisa melalui ini,Ave.Kumohon,kau harus bertahan.Demi aku.”ucap Justin parau.Air matanya menetes begitu saja.Hatinya begitu sakit melihat gadis yang sangat ia cintai terbaring lemah di bangkar ini.


Keluarga Ave,keluarga Justin, beserta Bieber Crew pun sudah berdatangan.Sudah 3 jam ia menunggu Ave,tapi gadis itu tak kunjung bangun dari tidurnya.Justin mendesah, “baiklah.Aku akan pulang sebentar.Kau tunggu disini,aku akan segera kembali.”ucap Justin. Dia ingin mengambil pakaian di rumahnya,agar ia bisa bermalam di sini,menemani Ave. Justin akan beranjak bagun ketika tiba-tiba tangan Ave menggenggam erat tangan Justin.Seakan tidak ingin Justin pergi.”Baiklah jika itu maumu,aku tidak akan meninggalkanmu.Aku akan tetap disini untukmu.”dia mengelus tangan istrinya lembut,kembali duduk, dan memberi kode kepada Manajernya agar mengambilkan pakaiannya dirumahnya.


Sudah berhari-hari Ave belum bangun, dan berhari-hari juga Justin selalu menemani Ave,mengajaknya berbicara,dan berharap secepat mungkin Ave bangun.Dia selalu setia menemani Ave,dan tidak beranjak pergi dari tempat duduknya.

“Cepatlah bangun Ave.Aku merindukanmu..Aku rindu bergurau denganmu,aku merindukan masakanmu,aku rindu akan kecupanmu,aku merindukan semua yang ada pada dirimu..keceriaan kamu,tawa kamu,semangat kamu..aku mohon cepat bangun.Kau ingin aku terus begini?Aku tersiksa melihatmu terbaring di sini dengan wajah pucat.Aku akan mengajakmu ke taman dan makan ice cream jika kau bangun Ave..Kumohon,bangunlah”ucapku.Lagi-lagi air mataku menetes.Dan semakin cepat turun.Mesin pendeteksi jantung Ave berbunyi cepat,Ave mengerjapkan matanya beberapa kali,mencoba menyesuaikan matanya dengan ruangan ini.

“Ave?”kaget Justin.Ave tersenyum.Senyum Ave itu bukanlah senyum yang benar-benar menyiratkan kesenangan.Ada rasa sakit di dalam sana,tapi Ave tidak ingin menampakkannya pada Justin.Dia membuka alat bantu pernafasannya,yang  langsung mendapat teguran keras dari Justin.”Apa-apaan kau ini,pakai it—“kalimat Justin dipotong Ave.”Aku ingin berbicara dengan bebas, Justin. Alat itu membuatku tidak bebas.”ucapnya. Justin mendesah”Baiklah”ucapnyaa mengalah.

Ave mengusap wajah Justin,menatap Justin sambil tersenyum.Lalu tanga dinginnya menggenggam tangan Justin erat.”Kumohon jangan menangis apapun yang terjadi.Janji”ucap Ave.Justin mengerutkan keningnya bingung.”A-apa maksudmu?”

“Setelah ini,bacalah surat yang kuletakkan di buku harianku,semua jawaban atas pertanyaanmu selama ini ada disana.Terima kasih Justin, kau sudah mencintaiku.Kau telah menjadikanku perempuan paling beruntung.Terima kasih karena telah membiarkanku memilikimu seutuhnya.Terima kasih untuk 1 tahun 7 bulan terbaik dihidupku.Terima kasih karena telah menjadikanku perempuan yang berharga di matamu.Maafkan aku atas semua kesalahanku,kumohon jangan menangis jika aku pergi.Carilah perempuan lain yang lebih baik daripada aku.”ucap Ave.Air mata Justin mengalir dengan derasnya.Selama hidupnya,dia tidak pernah sesedih ini.

Tangan Ave bergerak menghapus air mata Justin. Dengan tersendat-sendat,dia berkata lagi,“Terima kasih atas kasih sayangmu Justin.Maaf aku harus meninggalkanmu secepat ini.Aku mencintaimu, selalu dan selamanya.”Ave menutup matanya.Wajahnya pucat.Tubuhnya dingin.Tapi bibirnya mengulum senyum yang amat tenang.





Tiiiitt.............tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttttttttt............................




Justin terhenyak.Jantungnya bagaikan dihantam pedang tajam.Dia terhuyung,tidak memercayai mata dan pikirannya.Ave meninggal.Dia meninggalkan Justin.Bidadarinya pergi,selamanya.

Dia segera memencet bel yang terletak di dekat tempat tidur Ave,berupaya memanggil dokter.Setelah dokter dan para suster datang,Justin beranjak keluar,menemui keluarganya dan Ave, serta bieber crew.
Justin melihat keadaan di dalam, sang dokter yang berusaha menghidupkan kembali Ave dengan alat pemacu jantung.Mesin pendeteksi jantung yang tak kunjung menandai adanya detak jantung,para suster yang menatap sang dokter dan pasien dengan raut wajah putus asa.Dia berdoa dalam hatinya,memohon memberi kesempatan pada Ave agar jantungnya menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan.Dan memohon agar dia ikut meninggal dan ikut dengan Ave kesana,hidup bersamanya dengan damai.

Tapi sia-sia.Dokter yang menangani Ave keluar,dengan menggelengkan kepalanya,wajahnya penuh penyesalan,menandakan bidadarinya,gadis yang ia cintai sudah benar-benar pergi.Meninggalkan Justin sendiri,menatap kosong ke arah tubuh kosong milik Ave.




****
Justin’s pov

Aku membuka tulisan tangan terakhir milik Ave.Surat yang Ave letakkan di buku hariannya.Mulai membaca surat itu dengan mata yang masih membengkak.





Dear Justin,

Aku pasti sudah benar-benar meninggalkanmu saat kau membca surat ini.Tapi,aku minta maaf Justin.Aku belum bisa menjadi istri yang baik selama in.Maafkan aku, jika aku terlalu sering membuatmu kecewa.


Tidak, Ave.Tidak. Kau telah menjadi istri yang sangat baik.Kau bahkan terlalu baik bagiku,kau tidak pernah sekalipun mengecewakanku.


Aku minta maaf,aku menyembunyikan penyakit ini darimu.Kau tau?Aku sangat senang ketika kau memelukku saat itu,kau berubah menjadi Justin yang aku kenal.Bukan Justin yang dingin,melainkan Justin yang lembut. Tapi sehari setelah itu,saat kau sedang di studio,hidungku banyak meneteskan darah,yang membuatku segera mengendarai mobil ke rumah sakit.


Di rumah sakit itu,aku didiagnosis oleh dokter bahwa aku menderita kanker darah stadium 4,yang tidak memungkinkanku untuk sembuh.Sekali lagi maafkan aku,aku hanya tidak ingin merepotkanmu dan membuatmu gelisah.Aku tidak mau membuat kariermu berantakan hanya karena aku memberitahumu soal penyakitku.Lagipula aku tau, cepta atau lambat,aku harus meninggalkanmu dan menyuruhmu mencari gadis lain yang jauh lebih baik dariku.


Aku mohon jangan lagi menangis.Kau tau kan, aku tidak ingin melihatmu menangis,dan aku hanya ingin melihatmu selalu tersenyum bahagia.Aku ingin melihat kariermu naik dan menciptakan lagu-lagu yang luar biasa.Kau bisa melakukan itu kan?Demi aku?


Aku benar-benar minta maaf,aku terlalu cepat meninggalkanmu.Terima kasih atas semuanya.Selamat tinggal, Justin. I love u, forever and always.





Love,
Avery





Tubuh Ave sudah dimakamkan.Pemakaman Ave diiringi oleh tangisan keluargaku dan Ave.Aku?Aku mencoba menahan tangisku,sekuat tenaga.Walaupun berat,aku harus mengikuti perkataan Ave untuk tidak menangis.

Selesai pemakaman,orang-orang beranjak pergi dari tempat ini.Hanya aku yang masih menatap makam Ave.”Kau akan selalu tinggal di hatiku,Ave.Selamanya,seumur hidupku.”bisikku. “Terima kasih Justin.”bisik seseorang.Aku mengenal suaranya.Suara Ave.Aku berbalik,mencari sumber suara itu,yang tidak mungkin kulihat.Air mataku mulai menggenang,memaksa ingin keluar. “Jika suara itu benar-benar suaramu,kumohon,biarkan aku bisa melihatmu untuk terakhir kali,Ave”

Air mata ini keluar.Pertahananku sudah runtuh,aku tidak bisa menahan air mata ini lagi.Aku merindukannya,sangat.”Kumohon jangan menangis,Justin.Kau sudah berjanji.”bisik Ave.Aku melihatnya!Ya,ya..Aku melihatnya!! Dia tersenyum ke arahku,senyum termanis yang pernah aku lihat.
“Aku berjanji Ave.Aku berjanji”ucapku sembari menghampus air mataku.”Aku harus pergi.Tepati janjimu,Justin.Aku mencintaimu”bisik Ave.Perlahan tubuhnya memudar,dan akhirnya benar-benar menghilang.”Aku mencintaimu juga, Ave.”bisikku lagi.Aku percaya,kau masih bersamaku Ave.Terima kasih telah menjadi gadis terbaik yang pernah kukenal.Terima kasih


Dan aku,Avery Bieber, akan selalu tinggal dihatimu sampai selamanya,dan suatu saat,kita akan bersama-sama.


Melihatmu tersenyum saja sudah lebih dari cukup bagiku,walaupun bukan aku yang membuatmu tersenyum –Avery Bieber

Kau akan selalu tinggal dihatiku Ave,selamanya. –Justin Bieber





The End